Ketika seseorang benar-benar memusatkan perhatian pada hal-hal baik dalam hidupnya, otak secara harfiah dapat membentuk ulang dirinya melalui proses yang dikenal sebagai neuroplastisitas. Proses ini memperkuat jalur saraf yang berkaitan dengan emosi positif dan membuat otak semakin peka dalam mengenali hal-hal baik di masa depan. Perhatian yang berulang terhadap pengalaman positif akan membangun koneksi saraf baru, layaknya latihan fisik yang memperkuat otot, sehingga secara bertahap mengubah sudut pandang, pola emosi, dan respons terhadap stres seiring waktu.
Dalam praktiknya, neuroplastisitas bekerja setiap saat. Otak terus berubah sebagai respons terhadap pengalaman, pikiran, dan emosi yang dialami seseorang. Ketika perhatian secara sadar diarahkan pada hal-hal yang terasa baik, aman, atau bermakna, sirkuit saraf yang berkaitan dengan rasa penghargaan dan pengalaman positif akan semakin menguat.
Penguatan jalur positif ini dapat dipercepat melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, seperti rasa syukur, mindfulness, atau afirmasi positif. Praktik-praktik tersebut membantu membangun dan memperkokoh jalur saraf yang membuat emosi positif lebih mudah diakses. Dalam jangka panjang, perasaan positif tidak lagi terasa dipaksakan, melainkan muncul secara lebih alami dan otomatis.
Sebaliknya, prinsip yang sama juga berlaku pada hal negatif. Ketika perhatian terus-menerus diarahkan pada pikiran negatif atau kondisi penuh tekanan, otak akan memperkuat jalur tersebut dan menjadi semakin efisien dalam mendeteksi ancaman serta masalah. Inilah sebabnya mengapa kebiasaan berpikir negatif dapat terasa semakin kuat dari waktu ke waktu.
Namun, dengan fokus yang konsisten pada sisi positif, pengaturan dasar otak dapat perlahan bergeser. Otak menjadi lebih cenderung mengenali solusi, harapan, dan kemungkinan dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan ini tidak terjadi secara instan, tetapi terbentuk melalui latihan mental yang berkelanjutan.

No comments:
Post a Comment