Ada manusia yang memandang sunyi sebagai ruang kosong, lalu bergegas mengisinya dengan suara apa saja agar hatinya terasa ramai. Namun ada pula jiwa yang menyukai kesendirian seperti seseorang menyukai halaman belakang rumahnya sendiri. Di sana ia duduk tanpa tergesa, mendengar napasnya, dan merasa cukup dengan keberadaannya. Kesendirian semacam itu bukan pelarian, melainkan perjumpaan.
Mereka yang tidak merasa kesepian telah belajar berbicara dengan kedalaman dirinya. Dunia boleh saja bergemuruh oleh tuntutan sosial dan perlombaan citra, tetapi di dalam batin selalu ada ruang yang lebih jujur dari panggung mana pun. Saat seseorang mampu tinggal di ruang itu tanpa takut, ia mulai mengenali sumber ketenangan yang tidak berasal dari manusia. Ada rasa dipeluk oleh makna yang halus, seolah hidup memiliki inti yang tidak mudah goyah.
Barangkali di titik itulah Tuhan ditemukan, bukan sebagai konsep yang jauh, melainkan sebagai kehadiran yang menemani diam. Orang yang telah sampai di sana tidak lagi memusuhi hari tanpa teman. Ia memahami bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh jumlah pesan masuk atau banyaknya nama yang mengenalnya. Kesunyian berubah menjadi ibadah yang lembut. Dalam sendiri ia merasa diawasi oleh kasih yang tidak tampak. Dan ketika kembali ke tengah keramaian, ia datang sebagai pribadi yang utuh, membawa cahaya dari ruang hening yang telah menjadi rumahnya.

No comments:
Post a Comment