Mengapa Mens Rea Bukan Sekadar Stand-Up Comedy
Banyak penonton mengira saat menyaksikan Mens Rea di Netflix, mereka hanya sedang membeli tiket untuk tertawa. Padahal, jika Anda jeli, Pandji Pragiwaksono tidak sedang sekadar menjual lelucon. Ia sedang mendemonstrasikan sebuah masterclass marketing tentang bagaimana mengubah ide menjadi industri.
Jika Anda hanya mendapat lucunya saja tanpa melihat polanya, Anda sedang rugi besar. Berikut adalah bedah strategi di balik kesuksesan Mens Rea.
1. Produk vs. Kemasan: Menjual “Validasi,” Bukan Sekadar Komedi
Banyak orang mengira Mens Rea hanyalah pertunjukan orang berdiri di atas panggung. Salah besar. Dalam kacamata marketer, ini adalah produk yang dibungkus dengan Katarsis Sosial.
Pandji tahu pasar sedang muak dengan perilaku pejabat dan kondisi politik, namun banyak yang takut bersuara. Di sinilah Pandji masuk membawa produk bernama “Validasi.” Ia mewakili kemarahan kolektif penontonnya. Pemilihan judul Mens Rea (Niat Jahat) juga berfungsi sebagai filter audiens; ia menyaring pasar yang memiliki literasi dan rasa ingin tahu yang tinggi—kelompok yang biasanya memiliki daya beli untuk tiket-tiket pertunjukannya.
2. Strategi Dapur Terbuka: Mengubah “Sampah” Menjadi Rupiah
Penyakit kreator pemula adalah ketakutan akan kegagalan. Banyak yang menyimpan karyanya rapat-rapat sampai dianggap sempurna. Pandji melakukan sebaliknya lewat konten Open Mic di YouTube.
Ia memperlihatkan proses saat leluconnya garing dan saat ia gagal di panggung. Mengapa?
Membangun Kedekatan: Penonton merasa dilibatkan dalam proses penciptaan.
By-Product Marketing: Sampah dari proses kreatifnya (latihan) diubah menjadi konten yang menghasilkan uang (AdSense/Membership).
Investasi Emosi: Saat materi tersebut akhirnya “pecah” di Netflix, penonton merasa bangga karena mereka telah mengikuti perjalanannya sejak masih mentah.
3. Newsjacking: Menunggangi Gelombang Isu
Perhatikan judul-judul klip promosinya: Skakmat Rocky Gerung atau Bahas Tom Lembong. Ini bukan kebetulan. Ini adalah teknik Newsjacking.
Pandji membajak trafik pencarian yang sedang tinggi di Google dan YouTube untuk mengarahkan orang ke produk utamanya. Di era algoritma, “dibenci” atau “dipuja” adalah mata uang yang sama: keduanya menghasilkan viralitas. Ia berani mengambil risiko diserang buzzer demi mendapatkan perhatian massa.
4. Ekspansi Kolam: Mengapa Harus Netflix?
Dulu, Pandji menjual karya digitalnya secara mandiri melalui Comika. Margin keuntungannya besar karena masuk kantong sendiri. Lantas, mengapa beralih ke Netflix?
Jawabannya adalah Scalability (Skala).
Web Sendiri: Ibarat membuka warung enak di gang sempit; yang datang hanya pelanggan setia.
Netflix: Ibarat membuka cabang di mall pusat kota; orang awam yang tidak kenal Pandji akan mulai “mencicipi” karyanya.
Ia rela mengorbankan sedikit margin demi mendapatkan massa yang jauh lebih besar dan memperkuat brand di level global.
Kesimpulan: Jangan Hanya Jualan “Gorengan”
Belajar dari Pandji, berhentilah hanya menjual produk jadi. Pandji bisa menjual tiket ribuan kursi di Indonesia Arena bukan karena dia komika paling lucu sedunia, melainkan karena ia berhasil membangun brand sebagai “Teman yang Berani Bicara.”
Value sesungguhnya bukan pada lucunya, melainkan pada keberaniannya.

No comments:
Post a Comment